News Ticker

Menu
Diberdayakan oleh Blogger.

Browsing "Older Posts"

Browsing Category "indonesia"
Senin, 30 Maret 2015 / No Comments


Macam-macam Batik Indonesia sangat bervariasi dan berasal dari berbagai  daerah yang tersebar di Indonesia. Batik memang identik dengan Kota Solo, Jogja dan juga Pekalongan, akan tetapi saat ini sudah dikenal batik yang berasal dari selain kota-kota tersebut. Dewasa ini dikenal pula batik yang berasal dari luar Pulau Jawa, seperti Batik Bali dan Minangkabau, bahkan ada pula Batik dari luar Indonesia seperti Batik Jepang dan Belanda. Untuk lebih mendekatkan kita kepada Batik Indonesia, mari mengenal macam-macam Batik Indonesia dari berbagai daerah:

Macam-macam Batik Indonesia berdasarkan daerah asalnya yaitu :
1. Batik Solo

Kota Solo merupakan daerah yang dikenal dengan kerajinannya, salah satunya adalah batik. Batik Solo sudah dikenal masyarakat umum bahkan hingga mancanegara. Batik Solo setidaknya memiliki lima motif yang paling populer, yaitu motif sido asih, motif ratu ratih, motif parang kusuma, motif bokor kencana, dan motif sekar jagad. Daerah sentral batik di Kota Solo berada di kampung Laweyan.

2. Batik Jogja

Tidak hanya Kota Solo, Kota Jogja juga dikenal juga dikenal dengan kerajinan batiknya. Dahulu batik ini hanya digunakan oleh kalangan tertentu saja di Yogyakarta, seperti keluarga keraton, akan tetapi saat ini siapa saja bisa menggunakan Batik Jogja. Ada lima motof Batik Jogja yang paling populer yaitu motif kawung, motif parang kusumo, motif truntum, motif tambal, dan motif pamiluto.

3. Batik Pekalongan

Salah satu kota di Jawa Tengah yang terkenal dengan kerajinan batiknya selain Kota Solo, Ya Kota Pekalongan dengan Batik Pekalongannya. Batik Pekalongan ini tipikal batik dari daerah pesisir yang kaya akan warna, bahkan kita bisa menjumpai satu Batik Pekalongan dengan kombinasi sekitar 10 warna sehingga terkesan atraktif namun tetap dinamis.

4. Batik Madura

Mungkin anda mengenal Madura dengan perlombaan karapan sapinya? Atau mungkin karena Madura merupakan sentra penghasil garam di Indonesia? Tahukan anda kalau Madura juga terkenal dengan batiknya yang bercita rasa dan bernilai tinggi? Ya, Batik Madura. Batik Madura terlihat lebih cerah dibandingkan dengan batik kebanyak, sehingga nampak lebih berani dan tegas.

5. Batik Cirebon

Batik Cirebon atau yang biasa disebut Batik Megamendung merupakan karya seni batik dari daerah Cirebon, Jawa Barat. Batik ini unik sekali dan berbeda dengan batik kebanyakan, untuk itu Pemerintah Indonesia berusaha agar Batik Cirebon mendapatkan pengakuan sebagai salah satu World Heritage dari Indonesia dengan mendaftarkannya ke lembaga PPB, UNESCO.

6. Batik Jakarta

Mungkin sebagian dari anda belum tahu Batik Jakarta, tapi batik asli Betawi ini memang benar-benar ada. Memang saat ini eksistensi sudah jarang kita temui, akan tetapi dulu batik ini pernah jadi idola dikalangan masyarakat ibukota. Saat ini, pamor Batik Betawi kalah jauh dengan Batik Solo dan Pekalongan, mungkin sudah saatnya kita mengembalikan kembali eksistensi Batik Jakarta.

7. Batik Bali

Bali tidak hanya dikenal dengan Sarung Bali yang sudah mahsyur dan mendunia, akan tetapi Bali juga mempunya kerajinan batik. Ini membuktikan bahwa Batik Indonesia tidak hanya berada di Pulau Jawa saja, melainkan juga dipulau-pulau lainnya di Indonesia. Batik Bali sangat indah karena terinspirasi oleh pesona keindahan alam Pulau Dewata tersebut.

8. Batik Tasik

Selain Kota Cirebon, Jawa Barat juga memiliki daerah sentra produksi batik lainnya, yaitu Kota Tasikmalaya. Batik ini dikenal dengan Batik Tasik, batik ini memiliki daya tarik tersendiri dan cukup digemari dikalangan masyarakat. Kekhasan Batik Tasik adalah warna-warnanya yang cerah dengan gambar flora-fauna yang ada disekitar Tasikmalaya seperti burung, bunga, dan lain-lain.

9. Batik Banten

Provinsi Banten juga memiliki batik yang sudah dikenal masyarakat luas, khususnya dikalangan masyarakat Banten, yaitu Batik Banten. Batik Banten merupakan salah satu batik terbaik didunia dan telah mendapatakan pengakuan internasional. Salah satu keunikan Batik Banten yang tidak dijumpai pada batik-batik lainnya adalah Batik Banten ini sebagai media tell the story (menceritakan sejarah).

10. Batik Minangkabau

Siapa bilang batik cuma ada di Pulau Jawa dan Bali? Pulau Sumatera juga memiliki batik tersendiri yaitu Batik Minangkabau yang berasal dari Padang, Sumatera Barat. Batik Minangkabau biasa disebut Batik Tanah Liek atau dalam bahasa Indonesia Batik Tanah liat, hal ini dikarenakan salah satu pewarna dalam batik tersebut adalah tanah liat. Batik ini sangat indah sekali sayangnya akan sulit untuk kita temui.

Selain kesepuluh macam-macam batik Indonesia tersebut, masih banyak lagi kerajinan batik dari berbagai daerah di Indonesia seperti Batik Malang, Batik Aceh, Batik Jombang, Batik Pekalongan, Batik Tulungagung, Batik Kediri, Batik Kudus, Batik Jepara, Batik Brebes, dan batik-batik lainnya. Ini merupakan kekayaan Bangsa Indonesia yang bernilai luhur, sudah sepatutnya kita menjaga dan melestarikan budaya bangsa yang mendunia ini.
Senin, 23 Maret 2015 / No Comments

MENGENAL MAKNA RELIEF CANDI BOROBUDUR



Arsitektur Candi Borobudur diyakini memiliki makna penting tentang pemahaman manusia terhadap kehidupan dunia dan keyakinan religi manusia pada masa pembangunannya. Selain sebagai lambang alam semesta dengan pembagian vertikal (Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu), Candi Borobudur juga mengandung maksud tertentu yang dilukiskan melalui relief-relief ceritanya. Menurut catatan Balai Konservasi Borobudur, dalam bangunan Candi Borobudur terdapat 1.460 panil relief cerita (tersusun 11 deretan mengitari bangunan candi)  dan relief dekoratif (berupa relief hias) sebanyak 1.212 panil.

Relief cerita pada tingkat Kamadhatu (kaki candi) mewakili dunia manusia menggambarkan perilaku manusia yang masih terikat oleh nafsu duniawi. Hal ini terlihat pada dinding kaki candi yang asli terpahatkan 160 panil relief Karmawibhangga yang menggambarkan hukum sebab akibat. Tingkat Rupadhatu (badan candi) mewakili dunia antara, menggambarkan perilaku manusia yang sudah mulai meninggalkan keinginan duniawi, akan tetapi masih terikat oleh suatu pengertian dunia nyata. Pada tingkatan ini dipahatkan 1.300 panil yang terdiri dari relief Lalitavistara, Jataka, Avadana, dan Gandawyuha. Sedang pada tingkat Arupadhatu tidak ada relief, melainkan terdapat patung-patung

Berikut uraian singkat dari relief tersebut:
 Tingkat I
Dinding atas relief Lalitavistara (120 panil). 

Bas-reliëfs van de verborgen voet van de Borobudur (1890-1891)
[foto Kassian Cephas -repro koleksi Museum van Volkenkunde]

Relief Lalitavistara menggambarkan riwayat hidup Sang Buddha Gautama dimulai pada saat para dewa di surga Tushita mengabulkan permohonan Bodhisattva untuk turun ke dunia menjelma menjadi manusia bernama Buddha Gautama. Ratu Maya sebelum hamil bermimpi menerima kehadiran gajah putih dirahimnya. Di Taman Lumbini Ratu Maya melahirkan puteranya dan diberi nama pangeran Sidharta. Pada waktu lahir Sidharta sudah dapat berjalan, dan pada tujuh langkah pertamanya tumbuh bunga teratai. Setelah melahirkan Ratu Maya meninggal, dan Sidharta diasuh oleh bibinya Gautami. Setelah dewasa Sidharta kawin dengan Yasodhara yang disebut dengan dewi Gopa. Dalam suatu perjalanan Sidharta mengalami empat perjumpaan yaitu bertemu dengan pengemis tua yang buta, orang sakit, orang mati membuat Sidharta menjadi gelisah, karena orang dapat menjadi tua, menderita, sakit dan mati. Akhirnya Sidharta bertemu dengan seorang pendeta, wajah pendeta itu damai, umur tua, sakit, dan mati tidak menjadi ancaman bagi seorang pendeta. Oleh karena menurut ramalan Sidharta akan menjadi pendeta, maka ayahnya mendirikan istana yang megah untuk Sidaharta. Setelah mengalami empat perjumpaan tersebut Sidharta tidak tenteram tinggal di istana, akhirnya diam-diam meninggalkan istana. Sidharta memutuskan enjadi pendeta dengan memotong rambutnya. Pakaian istana ditinggalkan dan memakai pakaian budak yang sudah meninggal, dan bersatu dengan orang-orang miskin. Sebelum melakukan samadi Sidharta mensucikan diri di sungai Nairanjana. Sidharta senang ketika seorang tukang rumput mempersembahkan tempat duduk dari rumput usang. Di bawah pohon Bodhi pada waktu bulan purnama di bulan Waisak, Sidharta menerima pencerahan sejati, sejak itu Sidharta menjadi Buddha di kota Benares.

Dinding bawah relief  Manohara dan Avadana (120 panil)

Borobudur; uit Borobudur Series no. 13-14: 
reliëf 1e gaanderij no. 11 Boven: De Boddhisattwa''s huldigen den Boddhisatwa Beneden: geschiedenis van Prins Sudhana. Manohara''s vlucht 
 [ Foto Kinsbergen 1873 - repro koleksi Museum van Volkenkunde]
Cerita Manohara menggambarkan cerita udanakumaravada yaitu kisah perkawinan pangeran Sudana dengan bidadari Manohara. Karena berjasa menyelamatkan seekor naga, seorang pemburu bernama Halaka mendapat hadiah laso dari orang tua naga. Pada suatu hari Halaka melihat bidadari mandi di kolam, dengan lasonya berhasil menjerat salah seorang bidadari tercantik bernama Manohara. Oleh karena Halaka tidak sepadan dengan Manohara, maka Manohara dipersembahkan kepada pangeran Sudana, meskipun ayah Sudana tidak setuju. Banyaknya rintangan tidak dapat menghalangi pernikahan pangeran Sudana dengan Manohara. Cerita Awadana mengisahkan penjelmaan kembali orang-orang suci, diantaranya kisah kesetiaan raja Sipi terhadap makhluk yang lemah. Seekor burung kecil minta tolong raja Sipi agar tidak dimangsa burung elang. Sebaliknya burung elang minta raja Sipi menukar burung kecil dengan daging raja Sipi. Setelah ditimbang ternyata berat burung kecil dengan raja Sipi sama beratnya, maka raja Sipi bersedia mengorbankan diri dimangsa burung elang. Seorang pemimpin harus berani mengorbankan dirinya untuk rakyat kecil dan semua makhluk hidup.

Langkan bawah (kisah binatang) relief Jatakamala (372 panil) 
dan Langkan atas (kisah binatang) relief Jataka (128 panil)

Relief ini mempunyai arti untaian cerita jataka yang mengisahkan reinkarnasi sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai seorang manusia bernama pangeran Sidharta Gautama. Kisah ini cenderung pada penjelmaan sang Buddha sebagai binatang yang berbudi luhur dengan pengorbanannya. Cerita jataka diantaranya kisah kera dan banteng. Kera yang nakal suka mengganggu banteng, namun banteng diam saja. Dewi hutan menasehati banteng untuk melawan kera, namun banteng menolak mengusir kera karena takut kera akan pergi dari hutan dan mengganggu kedamaian binatang-binatang lain. Akhirnya dewi hutan bersujud kepada banteng karena sikap banteng didalam menjaga keserasian dan kedamaian di hutan. Kisah jataka lainnya adalah pengorbanan seekor gajah yang mempersembahkan dirinya untuk dimakan oleh para pengungsi yang kelaparan.

Tingkat II
Dinding relief Gandawyuha (128 panil)
dan Langkan relief Jataka/Avadana (100 panil)

[ Repro foto Gunawan Kartapranata ]
Siddhartha Gautama mencukur rambutnya
Relief ini mungkin melanjutkan kehidupan Sang Buddha di masa lalu. Beberapa adegan dikenal kembali antara lain terdapat pada sudut barat laut, yaitu Bodhisattva menjelma sebagai burung merak dan tertangkap, akhirnya memberikan ajarannya.
Tingkat III:
Dinding relief Gandawyuha (88 panil)

Borobudur; uit Borobudur Series no. 25-26
reliëf 1e gaanderij 30 Boven: Gautami neemt de verzorging van den Boddhisattwa op zich Beneden: Geschiedenis van Sudhana. Ontvangst aan het hof.
 [ Foto Kinsbergen 1873 - repro koleksi Museum van Volkenkunde]
Relief pada tingkatan ini menggambarkan riwayat Bodhisattva Maitreya sebagai calon Budha yang akan datang, merupakan kelanjutan dari cerita di tingkat II.


 Het hoofdthema van de reliëfs draait om beloning en vergelding. Tegelijkertijd geven ze een beeld van het dagelijkse leven op Java in de achtste en negende eeuw. Naast conventionele afbeeldingen van hemel en hel zijn scènes uit het dagelijkse leven te zien van aardse ideologieën en verlangens, wereldse successen en drama's, van goede en slechte zaken die het gevolg zijn van daden uit het verleden en bepalen of de mens in de toekomst beloning of vergelding te wachten staat. — Vier mannen zitten in meditatie in een grot, omringd door bloeiend landschap met planten en wilde dieren. Een zinspeling op het streven naar de spirituele verlossing die het doel moet blijven.
 [foto Kassian Cephas - repro koleksi Museum van Volkenkunde]

Tingkatan paling atas Candi Borobudur dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud).  Pada tingkatan ini, manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa namun belum mencapai nirwana. Pada Arupadhatu yang terlihat adalah stupa-stupa terawang yang di dalamnya terdapat patung Buddha. Di tingkatan tertinggi dari Candi Borobudur yang memiliki total 10 tingkatan atau pelataran ini terdapat sebuah stupa yang terbesar dan tertinggi. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga Unfinished Buddha yang kini di simpan di Museum Karmawibhangga.


 Stupa Borobudur [ foto Vav Kinsbergen - 1873  repro koleksi Museum van 
/ No Comments

Solo River

From Wikipedia, the free encyclopedia
Bengawan Solo
Bojonegoro bengawan solo.jpg
Bengawan Solo passing through BojonegoroEast Java
Bengawan Solo topography map.png
OriginMount Lawu
MouthJava Sea
Basin countriesIndonesia
Length600 km (370 mi)[1]
Basin area16,100 km2 (6,200 sq mi)[1]
Solo River (alternatively, Bengawan Solo River, with Bengawan being an Old Javanese word for river) is the longest river in the Indonesianisland of Java, it is approximately 600 km in length. Apart from its importance as a watercourse to the inhabitants and farmlands of the eastern and northern parts of the island, it is a renowned region inpaleoanthropology circles. Many discoveries of early hominid remains have been made at several sites in its valleys, especially at Sangiran, including that of the first early human fossil found outside of Europe, the so-called "Java Man" skull.
Bengawan Solo was the crash site of Garuda Indonesia Flight 421.[2]

Geography[edit]

Solo River (or Bengawan Solo) has two sources: from the volcano ofMount Lawu, on the border between Central Java and East Java and fromKidul Mountain. In ancient time, the rise of Indo-Australian Plate redirected its stream northward. Sadeng Beach, located in Special Region of Yogyakarta, has been known as mouth of ancient Solo River, which flew southward in antiquity.
It passes through the major city of Surakarta (called Solo by the local inhabitants). An important early tributary to the Solo river is the Dengkeng River, which has its source in Mount Merapi.[3] After passing through Solo, the river flows northward around Mount Lawu, and then turn eastward into East Java in the Ngawi regency.
After Ngawi the river turns northward again, forming the boundary between Blora Regency of Central Java and Bojonegororegency of East Java. From the town of Cepu in Blora, the river turns eastward and passes through Bojonegoro regency's capital city. From there, it continues eastward through the Lamongan and Gresik Regencies. The last part of the river's basin (roughly starting from Bojonegoro regency) is mostly flat land.[4]
Bengawan Solo's delta is located near the town of Sidayu in Gresik regency. The present delta is redirected by a human made canal.[4] The original delta flowed into the Madura Strait,[4] but in 1890 a 12 km canal was made by the Dutch East Indies authority to redirect the Solo River into Java Sea.[4][5] This was done to prevent sedimentation of mud from filling the Madura Strait and thereby preventing sea access to the important port city of Surabaya.[4]
The Solo river delta has a huge mud sedimentation flow that deposited 17 million tonnes of mud per year. This sedimentation in the delta form a cape, which has average longitudinal growth of 70 m per year.[5] This delta is known as Ujung Pangkah (Pangkah Cape).

History[edit]


Vessels on Solo river duringcolonial period.
Solo river was part of massive river system that once existed in Sundaland. This drainage of the river system consisted of major river in present-day Sumatra andBorneo, such as Asahan river, Musi river and Kapuas river. The river system disappeared when Sundaland was submerged after sea level rise following the last Ice Age.[6]
The river played important part in Javanese history. Its drainage basin is an important agricultural area, dominated by rice farming. The river transported fertile volcanic soil downstream, replenishing the soil. It also provided link between Javanese port cities in the northern coast and the rice-growing hinterlands, with shallow vessels transporting rice to he ports to be sold.[7] This rice is Java's main commodity that was traded as part of the Spice trade.
Following acquisition of much of Java by the Dutch colonial governmental, various cash crops was introduced to be planted across the river basin, such as coffeesugar and cotton. (see Cultivation System).
By the last years of 19th century, river sedimentation in its original delta in Madura Strait started to disrupt vessels traffic in port of Surabaya. The Dutch colonial government decided to divert the river flow away from the shipping lane into Java Sea. They built a canal in the river's delta in 1890s which still alter the river until this day.[8]
In 1891, Dutch paleoanthropologist Eugène Dubois discovered remains of what he described as "a species in between humans and apes". He called his finds Pithecanthropus erectus ("ape-human that stands upright") or Java Man. Today, they are classified as Homo erectus ("human that stands upright").[9] These were the first specimens of early hominid remains to be found outside of Africa or Europe.